Ada Hikmah di Balik Kegagalan Indonesia ke Piala Asia U-23

Jakarta – Timnas Indonesia U-22 melaju ke babak utama Piala Asia U-23. Tapi, kegagalan itu dinilai bukan menjadi suatu hal yang buruk. Kenapa?

Di babak Kualifikasi Piala Asia U-23, Indonesia memulainya dengan hasil buruk. Tim asuhan Luis Milla itu kalah 0-3 dari Malaysia, yang keluar sebagai juara Grup H. Di laga kedua melawan Mongolia, Indonesia mengamuk. Garuda Muda berhasil melibas lawannya itu dengan skor 7-0.

Di laga penentuan melawan Thailand, Indonesia cuma bisa mendapat hasil imbang 0-0 dalam laga yang diguyur hujan deras. Tambahan satu poin membuat tim besutan Milla finis di posisi ketiga Grup H dengan empat poin dalam babak kualifikasi. Sedangkan Thailand berhak menempati posisi runner-up dengan lima poin.

Tersisih dari babak Kualifikasi Piala Asia U-23 tentu bukan hal yang diharapkan oleh tim dan juga masyarakat Indonesia. Namun bagi Budiarto Shambazy, selaku pemerhati sepakbola, hasil tersebut bukan sesuatu yang buruk.

Apa yang ditampilkan Osvaldo Haay dkk. di babak kualifikasi itu, justru dinilai bisa mematangkan konsep permainan tim yang diinginkan Milla menjelang tampil di SEA Games Kuala Lumpur pada Agustus mendatang.

“Pertandingan kemarin itu tidak bisa jadi ukuran. Lapangan seperti itu (tergenang air), mestinya pertandingan diberhentikan karena drainasenya sangat jelek. Ini lebih parah (dari di Indonesia), jadi pemain tidak maksimal,” kata Budiarto saat dihubungi detikSport.

“Kalau dilihat secara keseluruhan, bisa dikatakan ini ada harapan jika dilihat dari komposisi. Menurut saya kubu pelatih dan PSSI tidak kecewa dengan hasil kemarin. Mereka malah dapat kesempatan untuk melihat lebih jeli dan mendalam lagi terkait persiapan tim ke SEA Games bulan depan.”

Selama berkarier di sepakbola Indonesia, Milla baru meraih dua kemenangan, dua imbang, dan dua kekalahan. Dua kemenangan yang didapat Indonesia selama di bawah polesan Milla sejauh ini baru berasal dari Kamboja dan Mongolia.

Dengan segala pencapaian Milla, Budiarto berharap seluruh pihak tak buru-buru menyalahkan pelatih asal Spanyol tersebut. Sebab, selama ini PSSI lebih menargetkan kesuksesan Indonesia di ajang SEA Games.

“Jadi perlu diingat, Milla ini baru, jadi tidak perlu terlalu menyalahkan. Ini butuh waktu panjang sebetulnya. Medali emas di SEA Games sebetulnya target yang bukan muluk-muluk, beda dengan Piala Asia,” sambungnya.

“Kita jangan cepat-cepat kecewa. Kita sudah bolak-balik merasakan kekecewaan dengan pelatih-pelatih sebelumnya. Kasih kesempatan pada Milla. Saat ini sudah bermunculan kritik-kritik terkait Milla dan mempertanyakan Ketum PSSI terkait prestasi,” ucap wartawan senior Kompas itu.

“Memang, prestasi belum baik. Tapi kita harus sabar dan menunggu hasil di SEA Games. Setelah itu mungkin bisa dilancarkan kritik yang cukup pedas. Apalagi medali emas sudah menjadi target.”

“Sekali lagi, saya senang dengan Milla. Karena dia saat ini punya banyak pilihan pemain. Kalau era dulu kita sangat kesulitan cari pemain. Sekarang ketersediaan pemain berbakat cukup beragam. Tapi, jangan ganggu dulu tim ini. Jangan ribut-ribut dulu,” tegas pria yang pernah menolak ajakan Kemenpora untuk menjadi anggota tim sembilan.